Investasi Saham

Pesatnya perkembangan kehidupan yang semakin modern, tentu saja tidak bijaksana membiarkan harta yang kita miliki hanya tertanam di lahan investasi yang tidak memberikan return yang tertinggi. Apalagi membiarkan harta yang kita miliki hanya tersimpan tak bergerak dibrankas atau disimpan dengan return bunga yang cenderung kecil. Dalam dunia investasi kita sering mendengar istilah high risk – high return, low risk – low return, khususnya dalam investasi saham. Jika investor ingin mendapatkan return yang besar, maka ia harus berani untuk menghadapi risiko yang besar dan jika investor tidak berani untuk menghadapi risiko, investor tersebut harus bisa menerima return yang tidak besar. Namun, pasti seluruh investor akan mengharapkan return semaksimal mungkin dengan risiko seminimum mungkin.

Kita mengenal dua jenis risiko dalam investasi, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis mengacu pada risiko pasar yang disebabkan oleh faktor – faktor yang dapat mempengaruhi hampir semua perusahaan seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, perubahan tingkat suku bunga, dan kondisi politik. Hal tersebut bisa mempengaruhi harga saham – saham turun, walaupun secara fundamental saham – saham ini mempunyai kondisi yang baik. Sedangkan risiko tidak sistematis mengacu pada risiko yang unik pada setiap perusahaan, contohnya mogok kerja pada suatu perusahaan yang dapat menyebabkan berkurangnya pendapatan perusahaan.

Perkembangan pasar modal di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat terutama setelah pemerintah melakukan berbagai regulasi di bidang keuangan dan perbankan termasuk pasar modal. Para pelaku di pasar modal telah menyadari bahwa perdagangan efek dapat memberikan return yang cukup baik bagi mereka, dan sekaligus memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan perekonomian negara kita.

Dalam investasi saham pada bursa saham atau lebih dikenal trading saham kematangan ekonomi pemain saham dibagi menjadi dua kelompok yaitu investor dan trader (speculator) (Dominic, 2008 :1). Investor menanamkan uangnya di saham karena meihat reputasi perusahaan di  balik saham tersebut. Sedangkan seorang trader menanamkan uangnya di saham tanpa memperhatikan perusahaan dibalik tersebut. Investor lebih tenang dalam bermain saham karena memiliki tujuan investasi jangka panjang.

Kita mungkin sudah banyak mendengar rumor dan cerita tentang fenomena di pasar saham, dimana seseorang yang awalnya secara finansial biasa saja dapat menjadi milioner dalam waktu singkat setelah berinvestasi di pasar saham. Tokoh-tokoh dunia seperti Warren Buffet, Chris Gardner, William J.O’niel, Benjamin Graham, dan tokoh-tokoh lainnya hanya segelintir orang yang berhasil sukses di pasar saham.

Rumor diatas merupakan sebuah penggambaran sederhana dari ketidaktahuan mayoritas investor di pasar saham tentang investasi yang mereka geluti. Fakta menarik menunjukkan bahwa 85% dari pemula hilang dari peredaran pada tahun pertama ialah karena tidak mempersiapkan diri dengan benar, contohnya : dengan memahami medan anda dalam berinvestasi. Coba bayangkan dengan hanya bermodalkan mimpi dan iming-iming semata banyak orang berani mempertaruhkan seluruh uang tabungannya, yang didapatkan dengan bersusah payah dalam hidupnya di pasar saham. Padahal seperti kita ketahui bersama pasar saham sejatinya adalah sebuah instrumen investasi yang memliki resiko paling tinggi dibanding dengan instrumen lainnya. Sebegitu tingginya resiko investasi yang ada di pasar saham sehingga 85% dari investor baru yang terjun kedalamnya mengalami kegagalan di tahun pertamanya. Apakah kita harus sama seperti kebanyakan orang tersebut? Tentu tidak.

Sebagaimana pasar pada umumnya yang menjual barang yang diperjualbelikan untuk saling berinteraksi antar sesama manusia dalam memenuhi kebutuhan. Pada pasar saham, barang yang diperjualbelikan bukanlah barang yang umumnya ditemui seperti pasar tradisional atau swalayan, namun barang yang diperjualbelikan adalah bukti kepemilikan seseorang atas sebuah perusahaan yang disebut dengan saham. Setiap lembar saham yang diperjualbelikan mewakili jumlah persentase kepemilikan sehingga semakin banyak saham yang akan dibeli oleh investor maka semakin besar pula porsi kepemilikan investor tersebut pada sebuah perusahaan. Sebagai contoh dapat kita lihat dari seorang investor yang membeli 100 lembar saham sebuah perusahaan yang memiliki total 1000 lembar saham (setiap lembar yang dimiliki oleh investor mewakili 0,1% dari total modal perusahaan) dari contoh diatas maka dapat kita katakan bahwa investor tersebut pemilik perusahaan dengan persentase 10%. Untuk pasar saham Indonesia, proses penjualan dan pembelian dilakukan dalam satuan lot yang terdiri dari 500 lembar saham sebuah perusahaan.

Apakah yang investor dapatkan ketika membeli sebuah saham? Disadari maupun tidak ternyata pada setiap lembar saham yang diperjualbelikan di pasar saham terdapat sebuah nilai, dan nilai inilah yang didapatkan oleh seseorang investor ketika ia membeli selembar saham. Adapun besar kecilnya nilai dari sebuah saham sangat tergantung kepada kondisi perusahaan yang diwakili oleh saham tersebut. Semakin besar keuntungan yang diberikan oleh sebuah perusahaan maka semakin tinggi nilai dari saham perusahaan tersebut, karena keuntungan perusahaan pada akhirnya akan meningkatkan nilai modal perusahaan. Demikian sebaliknya kondisi merugi yang diderita sebuah perusahaan `akan menurunkan nilai dari saham perusahaan tersebut karena jumlah kerugian secara otomatis akan mengurangi jumlah modal yang ada pada perusahaan yang memiliki laba cenderung akan naik dari tahun ke tahun, sementara harga saham dari perusahaan yang merugi akan mengalami penurunan seiring berkurangnya modal yang dimiliki. Konsep inilah yang menjadi dasar paling utama dari pergerakan harga sebuah saham di pasar saham.

Namun rupanya mayoritas investor tidak mengetahui konsep sederhana tersebut dan dari sinilah permasalahan muncul. Ketidaktahuan akan konsep tersebut membuat kebanyakan investor di pasar saham membeli sebuah saham tanpa memperhatikan lagi kondisi perusahaan yang akan dibelinya. Rumor, isu, keserakahan dan rekomendasi pihak lain adalah alasan umum bagi kebanyakan investor untuk melakukan pembelian atas sebuah saham. Ini tentu adalah hal yang aneh karena dari penjelasan diatas dapat kita lihat bahwa sama sekali tidak ada kaitan antara nilai sebuah saham dengan rekomendasi seseorang. Apalagi rumor atau keserakahan kita. Sehingga tidaklah mengherankan apabila sering kita jumpai mereka yang menderita kerugian atas investasinya karena menggunakan metode pembelian seperti ini (menggunakan rumor, isu, dan rekomendasi). Padahal pada sisi lain ada cara termudah untuk memiliki investasi yang menguntungkan di pasar saham, cara tersebut adalah “hanya” dengan membeli perusahaan yang untung. Itu saja, sama sekali tidak sukar. Namun rupanya tidak banyak orang yang melakukannya karena mereka lebih suka berkutit pada hal-hal yang sukar.

Untuk dapat melakukan investasi/trading yang berhasil di pasar modal, maka kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Terutama mengetahui caranya bagaimana berinvestasi atau trading secara benar. Urutannya adalah sebagai berikut:

  • Menentukan tujuan dari investasi dan trading. Tanpa adanya tujuan kita tidak tahu kita akan pergi kemana.
  • Mengetahui kekuatan kelemahan diri kita untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Mengetahui peluang-peluang serta tantangan apa saja yang ada disekitar kita dalam mencapai tujuan tersebut.
  • Selanjutnya bagaimana kita dapat memanfaatkan kekuatan serta peluang yang kita miliki dan bagaimana mengatasi kelemahan dan tantangan-tantangan yang kita hadapi.
  • Memiliki serta menguasai ilmu-ilmu investasi serta trading di pasar modal yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita bertransaksi di pasar modal.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar berinvestasi di pasar modal

  • Pergunakan dana lebih (excess fund)
  • Dapatkan informasi mengenai produk investasi sebelum mengambil keputusan berinvestasi (product knowledge)
  • Disiplin melakukan target investasi baik profit maupun cut loss
  • Jangan menempatkan seluruh dana investasi pada satu jenis instrument yang sama

Berdasarkan penjelasan diatas tentu para pembaca setuju bahwa investasi di pasar saham ternyata bukanlah sebuah “rocket science” seperti yang banyak orang bayangkan. Tanpa disadari oleh banyak orang kunci keberhasilan berinvestasi di pasar saham justru adalah konsep tentang saham itu sendiri.. Nah sekarang anda telah memiliki kunci keberhasilan berinvestasi di pasar saham, pertanyaannya adalah maukah anda menggunakan kunci ini untuk mulai berinvestasi?? Hanya anda yang akan tahu jawabannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s