Investment and Risk Management

Investasi merupakan kegiatan yang telah dilakukan manusia sejak zaman dahulu kala. Adapun kegiatan investasi yang pertama kali dilakukan oleh nenek moyang kita di masa lampau adalah dengan cara menyimpan kelebihan hasil yang didapat pada masa panen untuk dapat digunakan ketika masa panceklik tiba. Kemudian ketika peradaban telah mengenal uang maka kegiatan investasi bergeser kepada usaha manusia untuk mendapatkan status kepemilikan dengan cara mengumpulkan emas dan tanah. Tipe investasi atas emas dan tanah tersebut merupakan awal kemunculan tuan – tuan tanah (landlord) yang dalam proses selanjutnya menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan – kerajaan di dunia. Bagaimana dengan masa sekarang ini ? Instrument investasi apakah yang saat ini ditawarkan oleh sistem ekonomi dunia ? Dan apakah langkah yang harus kita lakukan agar investasi kita aman dan berkembang ?

Secara umum sistem ekonomi dunia saat ini telah berada pada tahapan keempat dari masa sejarahnya. Tahap pertama dimulai ketika manusia menggunakan “BARTER” sebagai sarana perdagangan yang selanjutnya diikuti oleh tahapan kedua dimana uang mulai diperkenalkan sebagai alat tukar. Selanjutnya kolonialisasi (yang merupakan cikal bakal globalisasi) mengantarkan umat manusia kepada tahapan ketiga dimana pada masa itu banyak negara (khususnya Eropa) mulai memperkenalkan surat hutang sebagai alat pemerintah untuk mengumpulkan dana dari masyarakat sekaligus sebagai sara investasi. Di tahapan ketiga ini ekonomi mulai diperkenalkan dengan konsep bunga (return) dimana investor menentukan besarnya return berdasarkan resiko yang harus mereka tanggung. Tahapan terakhir (tahapan keempat) muncul seiring diciptakannya komputer di tahun 1960-an yang memungkinkan manusia untuk melakukan transaksi keuangan secara elektronik tanpa memerlukan lagi dokumen fisik seperti pada tahapan sebelumnya. Adapun efek langsung dari penerapan transaksi elektronik tersebut adalah banjirnya likuiditas yang membuat ekonomi berputar lebih cepat dan lebih besar sehingga memunculkan banyak orang kaya baru di seluruh dunia. Namun pada sisi lain banjirnya likuiditas tersebut membuat instrument investasi konvensional (emas dan tanah) tidak lagi cukup untuk menampung seluruh uang yang ada (likuiditas). Agar dunia tidak tenggelam dalam likuiditas yang dibuatnya sendiri maka secara alami lahirlah berbagai macam instrument investasi modern dengan profil resiko yang tinggi tetapi disertai tawaran imbal hasil yang juga menggiurkan. Beberapa instrument investasi modern tersebut diantaranya adalah pasar saham, pasar Forex, pasar komoditas, dan pasar subprime. Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa seluruh instrumen investasi modern yang ada saat ini tercipta semata-mata karena likuiditas yang berlebih sehingga apabila karena satu dan lain hal likuiditas dunia mengalami gangguan maka mau tidak mau instrumen investasi modernlah yang akan terpukul terlebih dahulu.

Bagaimana dengan Indonesia? Hal yang sama juga kita jumpai pada negeri ini dimana perkembangan teknologi informasi telah membuat Indonesia turut dibanjiri likuiditas. Jumlah likuiditas yang bertambah tersebut pada akhirnya menjadi bahan bakar dari munculnya beragam instrumen investasi yang saat ini ditawarkan. Secara umum saat ini di Indonesia terdapat tiga pilihan utama bagi seorang investor untuk menanamkan uangnya.

Ketiga pilihan tersebut adalah :

 

Gambar 2.4 Pilihan Investasi

Satu hal penting yang perlu menjadi perhatian setiap investor adalah fakta bahwa setiap pilihan investasi yang kita jumpai selalu memilki karakter resioko dengan potensi keuntungan tersendiri. Semakin besar iming-iming keuntungan yang ditawarkan oleh sebuah instrumen investasi makan akan semakin besar juga potensi kerugian yang dapat menimpa kita (HIGH RISK HIGH RETURN). Sebagai sebuah perbandingan ekstirn yang dapat kita lihat pada insturmen investasi deposito dan pasar saham. Bagi para investor yang memilih untuk berinvestasi di instrumen deposito maka sepanjang tahun 2010 ini ia harus puas hanya dengan return sebesar 7% pertahun saja. Sementara pada sisi lain investor yang memilih untuk berinvestasi di pasar saham mendapatkan keuntungan sebesar 20% atau hampir tiga kali lipat dari keuntungan seorang investor deposito. Mengapa terdapat perbedaan yang cukup besar? Jawabannya adalah karena faktor resiko, seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini, dimana terdapat kemungkinan bagi seorang investor pasar saham untuk memilih saham yang salah dan mengalami kerugian. Potensi kerugian inilah yang memunculkan sisi resiko dan hal tersebut tentu tidak kita temui pada investor deposito yang nilai pokok uangnya dijamin oleh pemerintah.

Gambar 2.5 Perbandingan Pasar Saham dan Deposito

 

Jadi bagaimana, apakah itu berarti kita harus menghindari pasar saham karena resiko yang tinggi tersebut? Tentu tidak, investor yang berkepala dingin tentu tidak akan menyia-nyiakan sebuah potensi keuntungan yang ditawarkan
oleh pasar saham. Sebagai seorang investor yang bijak maka kita harus dapat menjembatani antara potensi return dan resiko lainnya sehingga dalam jangka panjang kita akan dapat memilki sebuah investasi yang menguntungkan dengan resiko terkendali. Berikut adalah 3 hal yang dapat dilakukan oleh seorang investor untuk menjembatani antara resiko dan peluang pasar yang memiliki profil resiko tinggi seperti pasar saham.

  • Planning: Langkah ini dilakukan sebelum anda mulai berinvestasi. Hal-hal yang perlu direncanakan diantaranya adalah pemilihan saham yang akan dibeli, jumlah modal yang akan digunakan, jangka waktu investasi, dan target keuntungan yang anda kehendaki. Dengan memiliki perencanaan di awal transaksi makan investor akan berinvestasi dengan lebih santai yang pada akhirnya akan menguntungkan secara emosional dan pikiran.

 

  • Monitoring: Kegiatan ini dilakukan setelah transaksi dilakukan. Kegiatan monitoring tidak perlu dilakukan setiap hari, atau bahkan setiap menit, cukup pantau perubahan-perubahan dasar yang sedang terjadi saja. Sebagai contoh dari kegiatan monitoring dalah pemantauan kondisi ekonomi Indonesia serta pasar modal secara umum (trend jangka panjang) dan memantau kinerja keuangan dari perusahaan yang sahamnya kita beli (trend jangka menengah). Dengan pemantauan secara berkala tersebut maka seorang investor akan terhindar dari rasa frustasi akibat gerakan fluktuasi harian yang sering kali justru akan menimbulkan kerugian bagi investor.

 

  • Find Way out: Langkah terakhir ini adalah kegiatan penutupan transaksi yang telah kita awali. Setiap investor yang berinvestasi di instrumen beresiko tinggi harus selalu menyiapkan dua buah way out skenario atas investasinya. Pertama adalah Way Out skenario ketika investasi tersebut telah untung dan kedua Way Out skenario ketika investasi merugi. Contoh skenario ketika untung misalnya dengan menjual sejumlah modal dari investasi sehingga sisa yang ada pada saham tersebut hanyalah keuntungan saja atau dengan menjual setengah dari seluruh saham yang dibeli. Sementara contoh skenario pada masa kerugian salah satunya adalah segera menjual saham tersebut pada posisi rugi terkecil sehingga jumlah modal yang dimiliki tidak berkurang banyak.

Penerapan ketiga hal diatas secara konsisten akan membuat seseorang investor dapat tenang meskipun ia berinvestasi di instrumen yang beresiko tinggi. Dengan kata lain ketika kita dihadapkan pada sebuah peluang keuntungan yang besar maka usahakanlah agar kita dapat mengelola resikonya terlebih dahulu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s